Menghitung Berkah 2017

Time is
Too slow for those who Wait,
Too swift for those who Fear,
Too long for those who Grieve,
Too short for those who Rejoice,
But for those who Love,
Time is not.

Waktu itu, terlalu lambat bagi mereka yang menunggu, terlalu cepat bagi mereka yang takut, terlalu panjang bagi mereka yang bersedih, terlalu pendek bagi mereka yang bahagia, tetapi bagi mereka yang mencinta, waktu adalah abadi.

Sumber: Music and Other Poems, Henry Van Dyke (1904)

Sudah tanggal 27 Desember 2017, dan saya sadar, saya kurang punya rasa cinta, atau kurang bersyukur, atau bahkan terlalu banyak ketakutan, sehingga waktu selalu terasa sangat cepat berlalu dan berlangsung pendek saja, ah..selalu begitu sejak saya beranjak menua, sudah banyak janji dan resolusi agar saya lebih mengasihi, lebih sadar dan penuh rasa pada setiap detik dan detak kehidupan di dunia yang tak akan berlangsung selamanya ini, tapi lagi – lagi janji hanya tinggal janji.

Kali ini, walaupun saya tahu kalau saya nggak akan mampu menghitung semua keberuntungan dan berkah yang Tuhan sudah kasih buat saya, saya mau mengingat – ingat kembali perjalanan penuh berkah di tahun 2017 ini :

Januari – Juni 2017 :

Di awal – awal tahun selain pengalaman lucu menghabiskan malam pergantian tahun di sebuah villa di kaki Gunung Salak Bogor sana (moga – moga bisa cerita tentang ini lain waktu), hampir tidak ada peristiwa yang melekat di ingatan, yang istimewa adalah di bulan Februari saya memutuskan untuk membeli mobil setelah bertahun – tahun berpikir bahwa memiliki mobil bukanlah keharusan (selain karena tidak punya cukup uang, tapi juga lebih karena alasan “sok idealis” urusan jejak karbon dan kontribusi menambah kemacetan Jakarta), tetapi setelah terlalu “lelah” dengan mengendarai motor sendiri, naik kereta, taksi, ojek (online atau offline) maka akhirnya saya memutuskan untuk memiliki mobil, tidak mewah (karena tidak punya uang yang banyak, teuteup, he he), tapi saya bersyukur, bahwa akhirnya saya bisa memiliki sesuatu yang di masa kecil saya ini bisa dibilang “tidak mungkin”.

Dalam rentang waktu bulan April sampai Juni 2017, setelah berkali – kali dipanggil dan tidak diizinkan bos (diminta untuk ditunda) akhirnya saya mengikuti pelatihan kepemimpinan yang katanya wajib diikuti oleh para “supervisor” di tempat saya bekerja. Pelatihan dalam kurun waktu yang cukup panjang ini buat saya membawa berkah melimpah, selain mendapatkan ilmu dan bekal skill kepemimpinan, tentu saja yang lebih seru adalah bisa mengenal teman – teman baru yang artinya meluaskan jejaring, yang kata orang bisa meluaskan rezeki juga..Amiiin, dan yang lebih – lebih saya syukuri, saya ternyata mendapatkan prestasi yang lumayan, dan ini menyadarkan diri saya, kalau saya masih punya potensi yang harus terus menerus dikembangkan, yang katanya mengembangkan potensi diri itu adalah salah satu cara bersyukur.

Oh iya, satu jejak perjalanan yang tak ingin saya lupakan adalah, di bulan Februari 2017, saya mengunjungi Takengon, Aceh Tengah, kota yang nggak akan saya lupakan

Screenshot_20171227-091427_1Screenshot_20171227-091511_1

Oh iya, hampir saja lupa, di bulan Mei, saya sempat jalan – jalan ke perbatasan Republik Indonesia dengan Papua New Guinea di Skouw provinsi Papua , dan masih di bulan Mei, saya diundang untuk pertama kalinya menjadi pembicara di konferensi internasional di Kuala Lumpur, Malaysia (ternyata banyak juga jejak perjalanan yang perlu dituliskan).

Menutup paruh pertama 2017, tentu saja Lebaran di akhir bulan Juni lalu, kali ini saya lalui di kota asal istri saya yaitu  Sumenep, Madura dan dilanjutkan ke Malang :

Screenshot_20171227-092434_1

Juni – Desember 2017 :

Paruh kedua tahun 2017, dilalui dengan drama-drama baik yang penting, maupun nggak penting, selain karena pekerjaan yang mulai dikebut untuk diselesaikan pasca “setengah ditinggalkan” karena ikut pelatihan selama 4 bulan (walaupun on off, tetap saja tidak bisa 100%), secara personal juga ada hal – hal yang lumayan membuat pusing kepala, walau bagaimanapun saya bersyukur untuk hal – hal berikut :

  • Di awal bulan Juli setelah lebaran saya dan istri sempat menghabiskan beberapa hari untuk “lari” dari sesaknya beban kehidupan dunia he he, kita menikmati alam pedesaan Bali, lumayan lah membuat nafas sedikit lebih lega
  • Di Bulan Juli juga  untuk pertama kalinya saya pergi ke Manila, ibukota Filipina (moga – moga saya bisa tulis kisah perjalanan singkat saya ke Manila di lain kesempatan)
  • Di Bulan Oktober saya kembali bertemu dengan rekan – rekan sejawat seprofesi di Singapura untuk sebuah konferensi internasional setelah bertahun – tahun saya tidak mengikuti workshop/ hands on sebagai peserta yang sampai praktek segala.
  • Di Bulan November, untuk kedua kalinya saya pergi ke Raja Ampat, Papua Barat, ah seandainya saja saya punya lebih banyak waktu libur/ cuti, ingin rasanya menelusuri kepulauan eksotis itu lebih lama.

P_20171111_085457_BF

Tahun ini ada satu peristiwa yang tidak ingin terlalu diingat, yaitu penyelenggaraan pertemuan nasional di Padang Sumatera Barat pada bulan September, karena penyelenggaraannya yang kacau, padahal saya adalah ketua steering committee . Kekacauan ini sempat mempuat saya sedikit down, tapi saya mencoba untuk move on dan mengambil pelajaran dari “kegagalan” tersebut. Perasaan kecewa tersebut kemudian perlahan – lahan saya sembuhkan dengan kembali bertemu dengan banyak kawan seperjuangan, kembali meneguhkan tekad untuk berjuang bersama – sama untuk menjadi orang yang lebih banyak membawa manfaat untuk banyak orang.

Oh ya, di penghujung tahun ini akhirnya saya bisa reuni dengan kawan – kawan lama semasa SLTA, reuni yang menggugah kesadaran akan asal dan akar saya, reuni yang kemudian juga membawa episode baru dalam cara saya berkomunikasi dengan saudara – saudara dan keluarga saya.

Akhirnya, pasti ada banyak hal dan peristiwa sepanjang tahun 2017 ini yang terlupa dan terlewat untuk dicatat, tetapi yang paling penting adalah bahwa saya hanya ingin selalu menghitung berkah yang telah saya terima sepanjang tahun ini dan mengucap syukur Alhamdulillahi robbil alamin, semoga Allah SWT mengampuni semua kesalahan saya dan menunjukkan jalan kebenaran di sisa perjalanan kehidupan saya dan keluarga selanjutnya, Amiiin.

Selamat menyambut Tahun Baru 2018, semoga kebaikan dan kebahagiaan senantiasa bersama kita, apapun bentuknya, Amiiiiiiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s