Sepandai – pandainya menggosok gigi, akhirnya sakit gigi juga

P_20171218_101052

“Hah.. masa orang kesehatan gigi bisa sakit gigi?” teriakan “bodoh” itu keluar dari mulut seorang kawan yang mungkin dia nggak begitu faham kalau  seorang tenaga kesehatan atau dokter juga bisa sakit dan mati juga pada akhirnya. Celetukan temen ini  mestinya dicuekin aja, tapi mau nggak mau jadi mikir juga, what’s wrong with my teeth?..  saya menyikat gigi minimal 2 kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur, saya udah lama mengurangi makanan manis dan lengket, buah-buahan berserat juga saya konsumsi setiap hari, pokoke hal – hal umum pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut yang diajarkan di sekolah udah dijabanin, tapi why oh why akhirnya ada satu gigi geraham yang sakit pake berdenyut – denyut, gak bisa dipake makan saking sakitnya, lagi diem – diem juga berasa nyut – nyutan.

Singkat kata diriku pergilah ke dokter gigi yang praktek di Poliklinik Gigi di satu Rumah Sakit Swasta dekat kantor yang katanya adalah salah satu Rumah Sakit resmi kepresidenan, sebab di lobby depannya terpampang foto dokter – dokter yang katanya dokter kepresidenan, sebut saja rumah sakit ini adalah RSPP…yeah..harapan atawa ekspektasi saya terhadap rumah sakit ini lumayan tinggi, selain karena dekat,  saya pikir mereka pasti menerapkan pelayanan bermutu tinggi sesuai standar akreditasi RS berkelas dunia..uhuy.., dan yang paling penting sebenernya karena berobat gratis (pake asuransi kantor bini he he he)…. daaan eng ing eng… harapanku musnah nah nah nah… beberapa hal yang memusnahkan harapan adalah :

  1. Waktu menunggu antrian pendaftaran dan dipanggil masuk ke ruang poliklinik gigi dan mulut yang aduhai lambreta ratahayo.. jadiii  saya ke RSPP  daftar jam 7.30-an, ambil nomor antrian pasien jaminan dapet nomor 118, baru kepanggil jam 8.00, pelayanan petugas registrasi nggak terlalu lama sih, tapi yang bikin nggak nyaman adalah, sambil memproses registrasi doski ngomong sama orang lain pake hp-nya aja gitu, dikira ane bukan orang kali ye, gak perlu diajak komunikasi yang bener. Setelah registrasi ngeloyorlah saya ke poliklinik gigi dan mulut, dan eng ing eng... menunggulah diriku kurang lebih 2 jam sambil menikmati denyutan gigi gerahamku yang aduhai itu. Seingat saya ditangani dokter gigi itu jam 10.30an lebih deh..coba hitung aja… untuk berobat gigi ke RS ini ane menghabiskan waktu 4 jam lebih..kata teori penjaminan mutu pelayanan kesehatan … ini nggak bagus.
  2. Pelayanan medis/ perawatan gigi yang meragukan, sebagai orang kesehatan gigi, saya sedikit banyak tahu Standar Prosedur Operasional pelayanan kesehatan gigi dan mulut, dan ibu dokter gigi yang terlihat masih muda (panggil saja beliau drg. N) ini sukses bikin ane hilang kepercayaan kepadanya, cara dia melakukan anamnesa, menegakkan diagnosa dan merencanakan perawatan, intervensi serta evaluasinya sukses bikin saya nggak mau balik lagi sama dia. Nggak perlu dijelaskan detil lah ya, tapi salah satu contohnya adalah, setelah foto rontgen gigi, dia menghilang agak lama tanpa ba bi bu..eh taunya dia melipir ke drg spesialis sebelah tanya-tanya tentang kemungkinan diagnosa gigi saya (ini saya tau karena saya nguping, wong ruangan drg spesialis itu cuma dibatasi sejenis rak buku doang). Cobalah anda bayangkan, ketika kita dirawat oleh seorang tenaga medis yang untuk menegakkan diagnosanya saja masih melipir nanya – nanya, yang ada timbullah rasa sangsi atau tidak percaya kan?
  3. Peralatan kesehatan gigi dan mulut yang masih kuno, kenapa saya bilang begini, duh hari gini gitu ya, di mana – mana dental x-ray itu udah built in alias jadi satu dengan dental unit alias kursi gigi-nya..lah ini waktu pengambilan rontgen gigi saya disuruh ke ruangan khusus, yang mana peralatan dental radiografinya itu kayak yang masih tahun 90an, selain itu tata cara menyiapkan dental unit dan alat-alatnya juga belum kekinian banget deh (belum memenuhi patient safety, nggak ada wrapping dll)oh my..ini RSPP gitu lho, kalau berobat ke sana nggak pakai asuransi, ditanggung deh dompet anda akan langsung menipis ketika pulang.

Begitulah kisah si saya berobat gigi, moga – moga curcolan ini nggak dianggap melanggar UU ITE yaa, saya kan cuma cerita pengalaman pribadi ya, moga – moga in jadi masukan untuk perbaikan kualitas RSPP (yakali ada orang manajemen RSPP baca blog ini he he he).

Eh tunggu, sebenernya niat saya menulis postingan ini bukan buat mengkritik RSPP lho, niatnya mau curhat pembelaan diri mengapa biarpun si saya orang kesehatan gigi tapi kok bisa – bisanya sakit gigi..usut punya usut ternyata memang faktor – faktor yang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut itu ada banyak, jadi walaupun udah rajin menjaga kebersihan gigi dan mulut, tapi ada faktor saliva, faktor kondisi mineral jaringan gigi kita dan lain sebagainya, rupanya karena gigi diriku termasuk rapuh (akibat kurang gizi waktu di dalam kandungan dan masa pertumbuhan kayaknya), jadi gigi gerahamku mengalami retakan, mungkin karena pengunyahan makanan yang keras (bukan karies atau lubang gigi lho), dan ini berakibat sakit yang luar biasa.

Baiklah, saat ini diriku lagi konsumsi obat pengurang rasa sakit dulu deh, nanti kalau sudah ada waktu mau cari dokter gigi yang bisa dipercaya deh, nggak mau balik lagi ke rumah sakit yang itu ah, he he he, semoga anda tidak mempunyai pengalaman yang sama dengan saya. Sampai jumpaaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s