Agama, Politik dan Saya

Sedang ada banyak “grenengan” di kepala, ada banyak “resah-gelisah” di dalam dada halahhh

Baiklah lebih baik dituliskan saja :

Situasi sosial politik di negara saya Indonesia akhir – akhir ini kok ya bikin “gerah”, bangsa Indonesia yang katanya berazaskan Pancasila dan bersemboyankan Bhineka Tunggal Ika ini sedang dilanda “galau tingkat dewa” dengan berhembusnya “angin – angin perpecahan” yang diwarnai sentimen Suku Ras Agama dan Antar Golongan (SARA) dalam bingkai politik (tepatnya persaingan/ perebutan kekuasaan) yang sangat kentara.

Tidak perlu menjadi ahli sosiologi atau pengamat politik untuk melihat dan merasakan situasi yang “panas-dingin” kayak orang meriang ini, cukup pantau linimasi facebook, twitter, instagram atau media – media lainnya, maka akan bisa mendeteksi bahwa, kalau dibiarkan, situasi bangsa Indonesia bisa saja menuju arah yang buruk, naudzubillahi mindzalik.. moga – moga saja saya salah, dan Indonesia akan terus menjadi rumah kita yang aman, nyaman, sejahtera, sentosa. Amiiin ya Robbal Alamiin.

Ngomong – ngomong isu agama yang menjadi bahan “gorengan” politik akhir – akhir ini, bagi saya, menjadi penganut agama dan mengamalkan agama, semestinya membawa kedamaian dan kebahagian baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, jadi mestinya, menurut saya lho, kalaupun agama di bawa ke ranah politik, ya yang damai – damai sajalah. Jangan sampai atas nama agama terus bisa bebas menunjukkan ekspresi kebencian pada sesama manusia. Rasa benci mungkin memang manusiawi, tetapi kebencian atas nama agama sungguh membuat saya bingung.

Saya tahu pasti akan ada yang bilang bahwa agama mengajarkan kita harus membenci kemunkaran, membenci kemaksiatan, membenci hal – hal yang dilarang Tuhan atau membenci orang yang berbuat kemunkaran atau kejahatan, katanya kalau kita tidak membenci hal – hal itu, maka kita tidak bisa dikatakan beriman. Ok, saya tidak akan mau berdebat dengan orang yang meyakini hal itu, karena pasti saya kalah omong, wong ilmu agama saya sangatlah cetek, tapi satu hal yang saya fahami adalah, konteks kebencian yang diajarkan agama adalah bagaimana kita tidak melakukan hal – hal munkar itu, saya meyakini bahwa kita harus menjauhi perbuatan “dosa”, itu saja, kalau kita tidak “benci” terhadap perbuatan dosa maka kita akan gampang saja terjerumus ke dalamnya.

Tetapi ketika kebencian itu kemudian ditujukan kepada manusianya, bukan pada perbuatannya,  yang dinyatakan dengan ekspresi – ekspresi penghinaan, penyerangan “dignity” atau harkat derajat kemanusiaan orang lain, penghancuran nama baik dan lain sebagainya, bahkan ada yang seolah – olah bertindak seperti malaikat atid yang mencatat semua kejelekan orang atau bahkan seperti malaikat zabaniah, yang menjalankan perintah Tuhan untuk memberi balasan kepada orang-orang yang berdosa, saya jadi merinding sendiri, jangan – jangan memang kita memang sudah ada di alam akherat, dan mereka – mereka itu adalah memang malaikat zabaniah.

Saya lahir di awal tahun 70an, di kampung, dari keluarga tradisional yang katanya kental keislamannya, paling tidak ini ditandai dengan madrasah diniyyah yang ada di depan rumah saya, bapak saya salah satu imam masjid yang bacaan Al-Qurannya fasih, katanya, saya dari sejak bisa ngomong diajarin membaca Qur’an, dipukul kalau tidak sholat, dihajar pakai penggaris kalau salah hapalan juz amma-nya. Seingat saya, waktu masih kecil, ibu saya pakai kebaya brukat yang keliatan kulitnya, kerudungnya asal tempel saja, tapi bapak saya yang imam mesjid itu santai saja, kakak – kakak perempuan saya waktu itu nggak pake kerudung, bahkan saya pernah lihat foto kakak saya pake rok mini di atas lutut, dan pada waktu itu semua orang nampaknya santai – santai saja. Beda banget dengan kondisi sekarang, kalau ada wanita beragama Islam terus nggak pakai kerudung, kayaknya semua orang tiba – tiba memandang wanita itu sebagai orang yang penuh dosa.

Kenapa saya tiba – tiba ngomongin ini?, ini bukan soal kerudung atau jilbab atau hijab yang sebagian besar orang Islam mengatakan ini hukumnya wajib, yang saya ingin bahas adalah, ternyata ada pergeseran pemahaman beragama dan menjalankan agama, membandingkan suasana keberagamaan saat saya kecil dengan saat ini, sungguh sangat jauh berbeda. Dari berbagai perbedaan yang bisa saya lihat, rasakan dan fahami adalah bahwa saat ini telah terjadi pertumbuhan faham – faham ekstrim, atau Growing Extrimism. Fenomena ini terjadi secara global dan tentu saja Indonesia tidak steril dari hal ini.

Akhirnya saya hanya mampu berharap dan berdoa semoga semuanya baik – baik saja, Amiiiin yaa robbal alamiin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s