Saatnya Berubah

“Ketika kita tidak lagi mampu mengubah situasi, kita ditantang untuk mengubah diri kita sendiri”.
Victor Frankl –

Dalam konteks pekerjaan,  lama rasanya saya hidup mengikuti arus, seperti sebatang kayu yang mengapung di derasnya aliran sungai, sepanjang waktu itu saya menyerah, saya biarkan diri ini mengikuti maunya keadaan di sekeliling, ketika organisasi dijalankan  dengan konsep “business as usual” atau begitu – begitu saja saya diam saja, saat atasan bersikap tidak menyenangkan, saya telan saja, ketika kolega dan anggota tim yang saya pimpin membuat saya “sakit kepala”, saya juga diam saja, semua rasa tidak nyaman itu biasanya saya obrolkan saja dengan istri  di rumah,  saya betul – betul pasrah, saya berpikir bahwa saya bukan aktor perubahan, kalau harus ada perubahan sepertinya itu bukan dari dan oleh saya, sedih deh he he.

Lalu apakah saya merasa bahagia? tentu saja tidak, indikatornya sederhana, setiap pagi di hari kerja saya harus berjuang mengumpulkan semangat untuk bangun dan berangkat ke kantor dan saat sampai kantor seringkali saya mati gaya, harus mulai dari mana, sebab tak ada lagi rasa “meletup-letup” yang seringkali orang bilang sebagai “passion”  itu. Setiap hari saya hanya menunggu akhir minggu tiba, atau seringkali saya mencari “pelarian” dengan hanya browsing atau googling hal – hal yang menarik minat, atau bahkan saya “youtube-ing” saja video – video lucu,  tidak jarang juga saya didera perasaan “useless” atau bahasa “grenengan” saya : “ngapain ya gue di sini?” parah banget memang.

Belakangan saya mulai menyadari, saya tidak boleh terus menerus seperti itu, karena lama – lama saya bisa ditelan “ketidak-puasan” (kalau tidak boleh dibilang “ketidak-bahagiaan”) yang bisa membuat saya jadi sakit jasmani rohani. Kesadaran itu kemudian mendorong saya untuk mencari – cari alasan mengapa saya kok bisa jadi “kayu mengapung di atas arus sungai” itu dan sepertinya ada beberapa hal yang bisa saya temukan :

  1. Saya dengan bodohnya percaya bahwa saya ini tidak punya peran apa apa, atau kalaupun ada ya peran saya remeh banget deh bagaikan kalimat becandaan anak alay ini : “da saya mah apalah atuh, hanya remah – remah rengginang” haduhhh….
  2. Saya dengan naifnya berpikir bahwa organisasi tempat saya bekerja itu terlalu angkuh sehingga apapun yang saya lakukan pasti nggak akan membuat perubahan yang berarti
  3. Saya dengan tidak pede-nya menganggap kalau orang – orang di sekitar saya nggak akan pernah mendengar apa kata saya, apalagi mau ngikutin prinsip – prinsip saya
  4. Saya dengan cerobohnya menilai bahwa unit tempat saya bekerja nggak penting – penting banget, karena kalaupun unit ini nggak ada, organisasi ini dan negara serta bangsa Indonesia akan tetap eksis ..duhhh…

Beruntung kemudian saya makin disadarkan ketika saya dipanggil pelatihan kepemimpinan di mana saya mendapatkan materi – materi tentang perubahan, baik perubahan organisasi maupun perubahan diri, yah sebetulnya perubahan organisasi harus bermula dari perubahan individu sebagai bagian dari organisasi. Kalau saya cerita tentang ini mungkin akan terdengar basi, sebab teori – teori tentang hal ini bertebaran di mana mana, jadi saya mau menulis beberapa poin sebagai pengingat diri sendiri untuk menjawab alasan – alasan konyol yang saya tulis di atas.

Seperti sudah banyak disampaikan orang – orang bijak dan para motivator kondang, bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan, jadi mulai sekarang saya mau berusaha mengganti pola pikir dan  berusaha menerapkan perilaku dengan prinsip – prinsip ini saja :

  1. Saya mempunyai peran, sekecil apapun peran saya, insyaAllah membawa manfaat, kalaupun peran saya tidak membawa dampak besar bagi orang banyak, paling tidak saya bisa berdampak positif bagi orang – orang yang ada di sekeliling saya
  2. Saya mungkin tidak bisa mengubah budaya organisasi tempat saya bekerja (yang gemuk/ karyawannya ratusan eh ribuan itu), tapi paling tidak saya bisa berupaya untuk mengubah cara kerja di unit saya dengan cara – cara yang lebih efektif, efisien dan paling utama “menyenangkan”
  3. Saya akan berusaha untuk percaya diri tanpa harus jadi “jumawa” bahwa dengan cara – cara tertentu yang tepat, maka saya bisa mengkomunikasikan ide – ide saya, bisa saling menasehati atau kalau perlu “mempengaruhi” orang – orang di lingkungan kerja saya.
  4. Walaupun unit di mana saya menjadi “leader” adalah unit yang nggak penting – penting amat, kalau saya berhasil membuat suatu terobosan yang orang lain nggak kepikiran, maka unit tempat kerja saya insyaAllah akan menjadi penting atau setidaknya membawa dampak berarti bagi masyarakat. Sebab pengakuan penting atau nggak penting itu harus dibuktikan atau diupayakan bukan dimintakan.

Pasti terdengar sok bijak, tapi bagaimanapun saya harus menyayangi diri saya sendiri, saya tidak mau terjebak dalam pusaran emosi negatif yang ujung – ujungnya membuat saya tidak bahagia dan sakit – sakitan, jadi saya tidak akan menunggu orang lain berubah, saya tidak akan menyandarkan harapan perubahan pada organisasi, saya akan  berupaya keras untuk mulai merubah diri saya sendiri saja, doakan saya berhasil yaaa… Amiiiin YRA

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s