Beda Kaca Mata, Beda Pula Pemandangannya

What we see depends mainly on what we look for.
― John Lubbock

For what you see and hear depends a good deal on where you are standing: it also depends on what sort of person you are.”
― C.S. LewisThe Magician’s Nephew

Alkisah,  tiga orang buta yang sedang membicarakan gajah :

Orang buta 1 : “Gajah itu bulat keras seperti batang pohon”

Orang buta 2 : “Tidaaak, gajah itu bulat dan panjang seperti ular”

Orang buta 3 : “Ah kalian salah semua, gajah itu tipis lebar”

Rupanya, orang buta 1 memegang kaki gajah, orang buta ke 2 memegang belalainya sedangkan yang ke 3 memegang telinganya.

Cerita itu mungkin usang, tetapi masih saja relevan kalau kita sedang membicarakan suatu hal yang sama, tetapi dari sudut pandang, atau pemahaman yang berbeda.

Sudut pandang atau pemahaman yang berbeda terjadi pula dalam bidang pendidikan perawat gigi saat ini. Bagi saya dan mungkin teman-teman perawat gigi aktivis organisasi profesi PPGI,proses pendidikan yang meluluskan perawat gigi akan dipandang dari  kebutuhan nyata yang dihadapi sehari-hari di lapangan pekerjaan. Intinya apa yang seharusnya didapatkan dari bangku sekolah atau bangku kuliah itulah yang akan digunakan pada pekerjaan sehari-hari, apa yang dipelajari di pendidikan itulah yang harusnya sesuai dengan kondisi aturan yang berlaku secara nyata di lapangan atau pasar kerja, apa yang didapatkan pada proses pendidikan hendaknya menjadi bekal bagi kita untuk menjalankan pekerjaan/ kehidupan profesi yang dipilih. Hal-hal baru yang dikembangkan di institusi pendidikan semestinya seiring sejalan dengan perkembangan yang terjadi secara nyata di dunia kerja. Institusi pendidikan semestinya menjawab setiap kebutuhan lapangan dengan tepat.

Kebutuhan lapangan/ pasar kerja itu, menurut saya, variabelnya tidak tunggal, secara sederhana kebutuhan lapangan itu bisa dilihat dari sudut pandang provider ataupun juga dari user/ penerima pelayanannya. Sebagai provider, seorang perawat gigi tentu membutuhkan kepastian/ perlindungan hukum dan kejelasan jenjang karir sebagai salah satu bentuk penghargaan dalam pelaksanaan pekerjaannya. Sedangkan user/ pasien/ masyarakat memerlukan pelayanan yang aman, nyaman, berkualitas  dan terjangkau.

Pada sudut pandang yang lain,”Kebutuhan Lapangan” dijawab dengan satu argumen yang menyatakan bahwa secara epidemiologis, status kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia selalu dalam kondisi yang buruk, maka untuk mengatasi hal tersebut salah satunya adalah dengan menambah jenis pendidikan tertentu/ meningkatkan level pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sehingga  lulusannya diharapkan dapat dengan “gagah berani”  membantu mewujudkan status kesehatan gigi dan mulut yang ideal, yang selama ini belum pernah tercapai di Republik tercinta ini. Sungguh sebuah argumen yang ideal seandainya ditindak lanjuti dengan pemikiran dan upaya positioning dari lulusannya tersebut.

Ketika positioning atau sebut saja pendayagunaan/ penyerapan lulusan tersebut tidak dipikirkan dan diwujudkan secara sistematis, yang mungkin terjadi adalah adanya ketimpangan antara “produksi” dengan “pasar”. Ketika “pasar” tidak menggunakan hasil “produksi” tersebut, maka efek yang mungkin terjadi adalah  “produk” tersebut akan masuk “gudang” atau mungkin tetap digunakan tetapi tidak sesuai dengan “spesifikasi” yang sesungguhnya dimiliki. Niat mulia untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tadi mungkin saja tidak tercapai karena ternyata tenaga-tenaga “gagah berani” dengan “skill tinggi” tadi tidak mempunyai “tempat” untuk mewujudkan perjuangannya.

Pendayagunaan/ penyerapan lulusan baru dari sebuah institusi baru juga akan dihadapkan dengan “kepadatan pasar” yang telah terlebih dahulu diisi oleh lulusan dari jenis pendidikan lain yang secara kuantitas cukup besar, dan secara kualitas mungkin saja tidak jauh berbeda dengan lulusan dari institusi baru tersebut. Belum lagi pasar yang sudah padat tersebut sudah disi oleh penyedia layanan yang lebih mumpuni karena memiliki kompetensi dan kewenangan yang lebih luas. Keadaan tersebut sangat memungkinkan terjadinya tumpang tindih keahlian, kewenangan dan juga reward yang diterimanya. Kalau hal tersebut tidak diatur sejak semula, maka akan menjadi lebih sulit untuk mengaturnya di kemudian hari.

Di sisi lain yang berseberangan, terdapat suatu pandangan yang menggunakan kaca mata kebebasan akademik perguruan tinggi,  yang dengan segala argumentasi idealis-nya menyatakan bahwa keilmuan dalam bidang pelayanan perawatan gigi  itu harus dikembangkan. Dengan dalih globalisasi, maka upaya “studi banding”, “pertukaran mahasiswa” dan adopsi “keilmuan” dilaksanakan dan diutarakan sebagai satu keunggulan. Sungguh sebuah upaya yang patut dihargai, tetapi apabila pada prosesnya tidak mengindahkan “lingkungan sekitar” yang nyata, maka proses tersebut  sepertinya akan menjadi sangat “eksklusif” dan akan terjebak pada “wacana” yang hanya dibicarakan oleh para “empu” nun jauh di “menara gading” yang tidak bersentuhan dengan bumi.

Beda kaca mata , beda pula pemandangannya. Itulah yang terjadi, setiap orang, sepanjang tidak melanggar undang-undang, peraturan, norma dan etika yang berlaku di masyarakat boleh saja mempunya pandangan, pendapat, tindakan yang berbeda dengan yang lain. Hanya saja perlu kita fahami bersama, bahwa dunia ini bukan milik kita sendiri, keberadaan kita di dunia tidak akan pernah lepas dari ketergantungan dan interaksi dengan sesama, jadi jangan sampai apa yang kita lihat dan apa yang kita lakukan semata-mata untuk memenuhi apa yang kita cari, tetapi juga harus selaras dengan apa yang orang lain cari dan orang lain butuhkan.

Salam.

7 thoughts on “Beda Kaca Mata, Beda Pula Pemandangannya

  1. Halo, saya seorang perawat Gigi yang asli dari Amerika. Sekarang saya tinggal di Jakarta dengan suami saya dan anak- anak saya. Saya minta maaf dulu kalau Bahasa Indonesia saya masih kurang baik. Masih banyak yang ingin saya pelajari tentang bahasa Dan kebudayaan Indonesia. Saya senang bisa baca blog ini Dan saya mengerti kepentingan kesehatan gigi. Kalau saya bisa menolong atau kalau Ada pertanyaan, silakan email saya.
    Terima kasih,
    Charlotte Bonelli, RDH

  2. assalamualaikum…pak zaini. saya adalah prwat gigi lulusan sprg sbya th 1992 bahkan smpai skrang pun msh setia dgan sprg dulu ada rncana mw kuliah D3 akg atw jkg tp kok liat tman2 yg llsan D3 tsb kok gitu2 aja g da kemajuannya sm sekali bhkan trkdang skill msh klah dngan yg llsan sprg bukannya mw sombong atw menghina llsan D3 akg pak…cuman yah kalo sy baca blog bapak kok penuh dgn ke GALAUN…apa bnar bgitu y pak…sori sblumnya
    mungkin kita harus memPUSH para pemgang kebijakn harus bgaimna prawat gigi ini sebnarnya setlh lulus kuliah nantinya jgan smpai stlh lulus kuliah cm jd tukang cuci alat gigi sm panggil pasien y pak

    salam

    1. Waalaikum salam Pak afauziri

      Sesuai dengan judul tulisan saya ini, anda betul-betul pas untuk digunakan sebagai salah satu contoh dari isi tulisan saya ini, dengan segala latar belakang yang anda punya, anda menggunakan “kaca mata” anda sendiri, maka anda menilai bahwa blog saya berisi tulisan-tulisan yang penuh ke”GALAU”an, padahal menurut “kaca mata” saya, tulisan-tulisan saya dalam blog ini tidak semuanya berisi rasa galau. Sebagian besar malah dimaksudkan untuk menjadi motivasi untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang menurut saya penting dan benar.

      Dari cara pandang (kaca mata) anda sendiri, anda menilai lulusan D III tidak bisa apa-apa, skill anda sebagai lulusan SPRG (yang mengurungkan niat melanjutkan pendidikan) anda anggap lebih tinggi dibanding mereka yang lulus D III, itu menurut anda. Padahal menurut saya : mungkin anda lebih mahir mencabut gigi, menambal gigi dan keterampilan psikomotorik lainnya, tetapi apabila anda saya uji kompetensi dengan metode yang menguji pengetahuan, keterampilan dan sikap anda sebagai seorang perawat gigi, saya agak ragu kalau anda bisa lulus, karena harus anda ketahui bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi setiap hari terus berkembang. Jangan pernah meremehkan satu pekerjaan termasuk mencuci alat, karena dalam pelayanan kesehatan, bahkan mencuci tangan saja ada ilmunya, tidak semua orang bisa faham serta dapat melaksanakannya sesuai dengan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan.

      Persoalan praktek lulusan D III di pelayanan kesehatan yang tidak sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya (anda sebut : hanya cuci alat dan panggil pasien) itu bukan salah pendidikan, yang perlu diperbaiki adalah standar pelayanan dan advokasi profesi dan tentu peran dari perawat gigi yang bersangkutan di area pekerjaan. Hal tersebut bisa saja terjadi karena perawat gigi yang bersangkutan tidak punya cukup percaya diri untuk mengatakan dan juga menunjukkan kinerja yang lebih baik dari hanya sekedar cuci alat dan memanggil pasien.

      Semua persoalan yang terjadi dalam dunia perawat gigi tidak bisa diselesaikan dengan hanya mem-PUSH pemegang kebijakan, tetapi ada yang lebih penting, yakni meningkatkan kemampuan (yang bukan hanya kemampuan psikomotorik) dari semua perawat gigi, yang menurut saya kata kuncinya adalah pembelajaran yang berkelanjutan sepanjang hayat dari kita semua. Semoga apa yang saya sampaikan tidak terjebak dalam ekspresi kesombongan. karena tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa membuat kita sombong, karena yang berhak sombong hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Salam

  3. assalamualaikum…thx pak zaeni untuk blsan komentar sy yng mungkin trll sombong dan meremehkan kemampuan tman2 yg kemampuan motoriknya dibawah rata2…dan sy jg pasti g lulus jika anda menguji kompetensi dgn keilmuan anda karna sy cuma lulusan anak setara dgn sma…sy 1000% sadar dgn itu karna ilmu pengethuan dan tehnologi tiap detik sll memperbarui dgn sgl ke INOVASIAN yg TERKINI. Maslahnya adalh sy, anda dan kita smua llsan prwt gigi baik yg msih sprg sprti sy mwpun yg D3,D4 dan S1 (UGM) msih tdk jlas kemana arah stlh lulus, mgkin jd dosen iya kali….tp kalo diklinik swsta atw di instansi pmrintah sprti sy ini…kita msh ttp kalah dlm hal kewenangan dibnadingkan dgn lulusan dkter gigi yg baru lulus pdhal (sori sombong lg) kemampuan motorik msh klh lg dng prwt gigi kyk kita ini ( sombong lagi y pak tp kali ini sy mmbnadingknya dgn drg lhooo… tp yg bru lulus )
    nah skrg bgimana dgn yg didaerah trpncil…ap ada drg yg mw g ush jauh2 diluar jawa yg dijawa msh banyak kok daerh yg g da drg nya
    oh ya pak bgmn dgn pndpat anda ttg promotif,preventif,kuratif,rehabiltatif….sbnray yg mana hak dan kwjiban kita diantara itu smua. ok kita cm kebagian yg promotif sm preventif …tp anda bs liat sprti contohnya slah stu iklan pasta gigi yg terknal itu….itukan promotif dan preventif bosss tp mrka mlah kerja sm dgn PDGI tidak dgn PPGI…. HALLOOOO mana PPGI ……????
    nah sbgia contoh pak bnyak tman2 seangkatan sy jg ada yg mneruskan D3 gigi tp apa stlah mrka kmbli ke klinik tmpat asal mrka bkrja….aku msih seperti yg dulu…kok kyak jdul lagu hehehe sori bosss…pd akhirnya mrka kuliah lg ambil SKM. Nah disinilah pak mrka mrsa mnenmui dunia kerja yg seharusnya karna apa …karna mrka mrasa dihargai bahkan ada yg jd kpla bagaian di instasi pmrinthn pd akirnya mrk jg mnysal tau gini mending kuliah SKM dari dulu hahahaha yah sy ktawa aja trtama pd diri sy yg g mau maju buat cari ilmu tapi alhamdulillah sy akhirnya mw kuliah wlao cm kuliah subuh n kultum…

    salam…

  4. waalaikum salam pak afauziri

    lagi-lagi saya harus sampaikan bahwa jelas anda memakai kacamata yang berbeda dengan saya sehingga sudut pandang kita mengenai eksistensi perawat gigi jadi berbeda hal ini wajar-wajar saja.

    Yang menurut saya perlu diluruskan adalah, anda tidak bisa mengeneralisasi bahwa semua perawat gigi yang anda sebut saya, dan perawat gigi lain lulusan d3 dan d4 itu nggak jelas arahnya. Hal itu tidak 100% benar, mungkin anda harus melebarkan pergaulan anda dengan aktif di organisasi PPGI, sehingga anda bisa melihat bahwa ada banyak contoh positif dari teman sejawat perawat gigi Indonesia, dan anda bisa.menyadari bahwa PPGI telah melakukan banyak hal untuk pengembangan perawat gigi. mungkin memang belum bisa memenuhi harapan semua termasuk anda, tapi percayalah bahwa PPGI telah melakukan banyak hal.

    akhirnya saya sampaikan, hidup ini pilihan, anda boleh punya pemikiran dan pendapat serta sikap apapun mengenai pekerjaan/ profesi perawat gigi ini. kalau saya.memilih untuk.berpikir dan bertindak untuk memperbaiki diri dan bersama-sama dengan sejawat di PPGI untuk melakukan upaya2 peningkatan dan perbaikan profesi perawat gigi dan menghindari sikap yang hanya mengeluh,mencerca tanpa berbuat apa apa. saya sangat percaya dengan firman Allah SWT bahwa Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum, kalau kaum tersebut tidak berupaya merubah dirinya sendiri.salam

  5. assalamualaikum pak. Saya mau bertnya ttg info jalur penerimaan keperawatan gigi D3 ke S1/D4 di Indonesia atau di Australia tahun 2014 atau 2015, terimakasih pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s