Citra Diri, Citra Profesi

Setelah lama kekurangan energi untuk menulis dan memposting sesuatu di blog saya ini, akhirnya pagi ini saya tergerak juga untuk menulis lagi, walaupun isinya bukan hal teknis keperawatan gigi-an yang mungkin lebih bermanfaat langsung bagi teman-teman se-profesi sesama perawat gigi dalam menjalankan tugasnya di klinik, Puskesmas, ataupun Rumah Sakit, tapi mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi inspirasi dalam pengembangan diri yang tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan profesi tetapi juga kehidupan yang lebih personal.

Saya bukan seorang ahli personal development atau seorang motivator, bahkan kepribadian saya masih sangat jauh dari kualifikasi tersebut, tapi saya bisa menyebut diri saya sebagai seorang pembelajar yang selalu ingin belajar dari apa yang saya alami dalam hidup dan menjadikan pembelajaran tersebut sebagai motivasi diri untuk terus berubah ke arah hidup dan kehidupan pribadi dan keluarga saya yang lebih baik. Sedikit dari pembelajaran yang telah saya lakukan itu akan saya bagi sekarang.

Berbicara mengenai hidup atau kehidupan yang lebih baik, saya kira tidak ada satu patokan yang seragam bagi setiap orang, setiap orang pasti mempunyai cara pandang yang berbeda terhadap hidup dan kehidupannya, ada yang merasa kebaikan atau hidup lebih baik itu akan tercapai kalau menjadi kaya atau lebih kaya lagi, sementara yang lainnya berpendapat bahwa kehidupannya akan jauh lebih baik kalau orang tersebut bisa menjadi sukses sebagai pejabat atau pesohor, tetapi ada juga yang merasa bahwa hidupnya akan lebih baik lagi kalau bisa mencapai kedamaian secara spiritual.

Untuk saya, hidup dan kehidupan yang lebih baik itu adalah sederhana saja, saya tidak ngoyo untuk jadi kaya raya, saya tidak pernah punya ambisi untuk menjadi seorang pejabat atau tokoh masyarakat yang dikenal dan dipuja puja semua orang. Saya hanya ingin apapun yang saya lakukan bisa bermanfaat buat sesama, apa yang saya dapatkan dari pekerjaan kemudian bisa barokah untuk kehidupan saya dan keluarga saya, dan kehidupan spiritual saya menjadi lebih damai dengan semakin dekat dengan sang Pencipta saya.

Bukan berarti saya tidak pernah punya keinginan duniawi dan jujur saja seringkali saya juga tergoda dan merasa iri dengan kemewahan material yang dimiliki teman-teman saya yang kaya. Tetapi proses pembelajaran saya menuntun saya kepada kesadaran bahwa semua kepemilikan materi itu tidak selalu memberikan rasa bahagia dan atau menjadikan kehidupan yang lebih baik,  dan masih ada sesuatu yang lebih kekal dibanding hanya sekedar pemilikan harta benda, yaitu menjadi seorang pribadi yang baik dan bermanfaat bagi orang banyak seperti yang dicontohkan oleh panutan saya Nabi Besar Muhammad SAW.

Lalu, apa hubungannya ocehan saya di atas dengan judul tulisan ini ? Baiklah, menurut saya, Hidup dan Kehidupan yang lebih baik, menjadi pribadi yang lebih baik itu identik dengan citra diri atau kualitas diri yang nampak dan atau ditampakkan kita kepada dunia. Jadi citra seseorang akan ditentukan oleh apakah dia sudah menjadi pribadi yang baik, atau dia sudah mengelola hidup dan kehidupannya dengan cara yang lebih baik, menjadi lebih  baik disini adalah menjadi pribadi yang bermanfaat dan bernilai atau dalam istilah asingnya adalah menjadi pribadi yang VALUABLE.

Logika sederhananya, untuk menjadi pribadi yang valuable, tentu kita harus mempunyai value atau nilai, nah seringkali orang kehilangan valuenya karena dikuasai emosi dan atau pikiran negatif mengenai orang lain, lingkungannya atau bahkan dunia. Akan sangat gampang kita menyalahkan orang lain atau bahkan Tuhan atas situasi yang tidak menyenangkan yang kita alami. Tetapi apakah dengan menyalahkan orang lain itu kemudian segalanya menjadi lebih baik ? yang sering terjadi begitu kita bersikap negatif dengan terus-menerus mencari kesalahan pihak lain, maka value dari orang tersebut akan menurun atau bahkan hilang sama sekali. Contoh sederhananya,kita akan malas berteman dengan orang yang temperamental dengan emosi yang tidak terkendali, kita akan tersiksa bekerja sama dalam satu tim dengan orang yang value-nya mendekati negatif tersebut.

Saya bukan anti perubahan, tentu saja hal-hal buruk, situasi yang tidak menyenangkan dalam kehidupan apapun itu harus dirubah menjadi lebih baik, tetapi perubahan tidak akan pernah terjadi dengan hanya membesar-besarkan kesalahan orang lain, apalagi dengan mencari kambing hitam. Saya telah belajar bahwa ternyata menciptakan perubahan itu sejatinya harus dimulai dengan cara MERUBAH DIRI SENDIRI terlebih dahulu.

Sekaitan dengan MERUBAH DIRI SENDIRI itu, saya percaya ini ada kaitannya denga Citra Profesi Perawat Gigi. Sepanjang saya menjadi seorang perawat gigi tidak dapat dipungkiri ada suara suara negatif berupa keluh kesah, cercaan, sikap pesimis, bahkan hujatan tentang profesi perawat gigi yang saya dengar dari banyak teman-teman saya sendiri, sesama perawat gigi. Suara-suara negatif itu mau tidak mau telah menjadikan Citra Profesi Perawat Gigi di mata para pelakunya sendiri agak sulit untuk menjadi lebih positif. Banyak teman-teman perawat gigi yang tidak puas dengan profesi atau pekerjaannya, merasa terdzalimi, merasa selalu menjadi subordinat dalam sistem, bahkan merasa menjadi profesi marjinal yang terpinggirkan, dan kebanyakan dari banyak teman-teman saya itu beranggapan semuanya itu karena kesalahan orang lain, karena kesalahan profesi lain, bahkan karena kesalahan Pemerintah.

Pertanyaan berikutnya, apakah semua anggapan negatif tentang profesi perawat gigi itu betul? Saya tidak percaya kalau itu semuanya betul. Kalau kenyataan bahwa profesi perawat gigi ini kurang dikenal, saya percayai itu, persoalan bahwa pendapatan dari profesi perawat gigi itu tidak terlalu besar, saya percaya juga. Tetapi kalau ada yang beranggapan bahwa perawat gigi adalah profesi marjinal yang kurang dihargai, saya meragukan itu, walaupun untuk beberapa kasus, situasi itu bisa saja terjadi.

Nah, pada kasus-kasus di mana profesi perawat gigi tidak berada pada situasi yang tidak menyenangkan dan menjadikan citra profesi perawat gigi ini menjadi tidak begitu “membanggakan” tentu itu harus dirubah, apakah perubahannya bisa terjadi dengan cara menyalahkan orang lain? Saya tidak percaya dengan itu, pada banyak situasi, akan sulit untuk merubah sistem dan orang-orang lain dalam sistem tersebut kalau hanya dengan menyalah-nyalahkan yang berujung pada sikap atau value yang negatif.

Yang paling memungkinkan untuk merubah situasi yang tidak menyenangkan tersebut adalah dengan cara MENGUBAH DIRI SENDIRI menjadi lebih VALUABLE. Bagaimana untuk menjadi lebih valuabel, dan kemudian merasakan keajaiban perubahan yang terjadi di sekitar kita, itu memerlukan pemaparan yang lebih panjang lagi. Tulisan ini bisa jadi hanya menjadi pendahuluan saja. Intinya saya ingin menyampaikan bahwa apabila kita ingin mempunyai citra profesi yang lebih baik. maka mulailah dengan merubah citra diri dengan menjadi orang yang lebih VALUABLE.

Salam.

2 thoughts on “Citra Diri, Citra Profesi

  1. ……….saya mungkin atau( bisa) saja yang termasuk anda maksud. Saya senang dengan optimisme , dan kepercayaaan diri yang tinggi, seperti yang tersirat dalam paparan anda, ini menunjukkan ada “pencitraan positf “untuk profesi PRG, mudah2an ( ? ). Tapi jangan lupa ketika seseorang berkata dan bernyanyi tentang semua itu; jangan menyesali, mengeluh, menyalahkan orang lain…dst. ketika orang tsb sudah berhasil, jadilah pahlawan kesiangan, sok nasehati, dan begitu mulusnya melalui itu semua. Kata orang teori itu gampang apa lagi hanya (menyadur/menyitir), tetapi realita dalam kehidupan sangat jauh berbeda, kalau saya dilahirkan kembali dan kemudian ingin menjadikan profesi tentang pergigi-an menjadikan pekerjaan saya, saya 1000 % akan memilih kedokteran gigi, tul ga ?, wallohu alam bishowab…………

    1. hallo akang babeh…
      Waduh commentnya cepat juga ya, nuhun sudah pantau terus blog saya ya.

      Menurut saya, cara menjalani hidup itu pilihan, dengan berbagai konsekuensinya, tapi bagaimana kita dilahirkan dan ditakdirkan menjadi apa dan siapa saya percaya itu 100 % urusan Tuhan, jadi saya tidak pernah terpikir untuk dilahirkan kembali dan menjadi saya yang bukan seperti apa adanya sekarang. tetapi saya memilih menjalani dan menempuh hidup yang saya punya sekarang dengan mencoba untuk terus bersyukur. Dan untuk sampai pada kesadaran itu, tentu saja saya pernah melalui hal-hal yang tidak menyenangkan, jujur saya juga pernah merasa menyesal mengapa menjadi perawat gigi, tetapi penyesalan itu tidak saya pelihara, kemudian saya lebih MEMILIH untuk menjalani hidup saya dengan mencoba bersyukur, dan sekarang saya bersyukur sebagai seorang perawat gigi (saya masih seorang perawat gigi ber-SIPG dan mengerjakan pekerjaan perawat gigi di klinik promotif preventif JKG Poltekkes Bandung)

      Salah satu bentuk keberterimaan dan kesyukuran itu saya wujudkan dalam bentuk memelihara optimisme dan mencoba menjalani profesi serta berbagi pencerahan dengan teman-teman saya, InsyaAllah saya tidak punya niat untuk menjadi penasehat atau bahkan pahlawan (apalagi yang kesiangan ha ha), waduh jauh-jauh deh dari pikiran saya. Apa yang saya bagi bisa saja dari pikiran saya sendiri ataupun contoh dan hasil pemikiran dari orang lain yang bermanfaat, berbagi manfaat itulah yang saya niatkan sebagai wujud kesyukuran saya.

      Jadi, hidup itu pilihan beh, mau bersikap dan atau bertindak seperti apapun itu pilihan kok. Kalau ada yang memilih untuk tidak suka menjadi perawat gigi dan meninggalkannya itu PILIHAN bebas setiap orang kok…silahkan saja. kalau saya tetap memilih tetap ber-identitas sebagai seorang perawat gigi yang mencoba menjalani hari-harinya dengan optimis dan rasa syukur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s