Apakah Perawat Gigi itu Sama Dengan Perawat?: Laporan dari acara workshop keperawatan

Dalam presentasinya di hadapan puluhan peserta “Workshop Kebijakan Pelayanan Keperawatan” di Bandung tanggal 4-6 Juni 2009 kemarin, ketua umum DPP Persatuan Perawat Gigi Indonesia (PPGI) ibu Rina Lucyawati, S.Pd, M.Kes dengan percaya diri mengatakan bahwa perawat gigi itu bukan perawat, karena dua profesi ini mempunyai perbedaan mendasar dalam body of knowledge dan bentuk pelayanannya.

Pertanyaan berikutnya adalah di manakah letak kesamaan dua profesi tersebut sehingga perawat gigi dikelompokkan ke dalam tenaga kesehatan keperawatan (Permenkes RI No.1035/1998) ?, dengan serius ibu Lucy (Panggilan ibu ketua umum DPP PPGI) menjawab bahwa perawat gigi memiliki kompetensi dalam ruang lingkup pelayanan klinis yang dinamakan asuhan kesehatan (keperawatan?) gigi.

Jadi jelas bahwa perawat gigi bukan perawat tapi tetap termasuk ke dalam kelompok keperawatan bersama-sama dengan bidan. Syukur Alhamdulillah, pernyataan tersebut tidak lantas menjadi polemik dalam workshop tersebut, bahkan saudara-saudara kita para perawat dan bidan dari organisasi profesi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) serta Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menyambut hangat bahkan merangkul para perawat gigi untuk bersama-sama membangun kesehatan masyarakat Indonesia di bawah naungan Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan, Depkes RI. walaupun secara formal Direktorat tersebut belum mempunyai sub direktorat khusus untuk membina keperawatan gigi, tetapi seperti dijanjikan oleh Direktur Bin-Yan keperawatan Bapak Ilham Setyo Budi, S.Kp, M.Kes, perawat gigi akan di bina dan dikembangkan oleh Direktorat tersebut.

Sungguh penyelenggaraan workshop kebijakan pelayanan keperawatan tahun 2009 ini telah menggulirkan sebuah harapan baru bagi profesi perawat gigi, harapan akan eksistensi profesi yang lebih baik, serta pembenahan-pembenahan di segala bidang yang pada gilirannya ditujukan untuk kesejahteraan dan kebanggaan semua anggota organisasi profesi Persatuan Perawat Gigi Indonesia. Sebagai contoh pada Rencana Tindak Lanjut dari workshop tersebut juga dengan eksplisit dinyatakan bahwa langkah pembinaan berikutnya dari Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan adalah sosialisasi dan revisi kebijakan-kebjikana seperti standar pelayanan asuhan kesehatan gigi, standar profesi serta sistem remunerasi, disamping itu juga dukungan akan pembenahan sistem pendidikan perawat gigi termasuk perubahan kurikulum dan taksonomi institusi.

Selanjutnya, keberhasilan tindak lanjut dari acara workshop tersebut akan tergantung dari beberapa faktor, yang pertama tentu saja komitmen dari Departemen Kesehatan RI dalam hal ini Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan untuk membuktikan janjinya dalam membina, memberikan advokasi serta mengembangkan profesi perawat gigi. Faktor selanjutnya adalah tentu saja komiten dan kerja keras dari organisasi profesi PPGI sendiri. PPGI tidak boleh terlena hanya karena sambutan hangat saudara-saudara kita para perawat dan bidan, PPGI harus terus menerus melanjutkan upaya-upaya lobby serta menunjukkan partisipasi dan prestasinya dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.

Partisipasi dan prestasi yang bisa ditunjukkan oleh segenap anggota PPGI adalah dengan senantiasa bekerja keras di area dan instansi-nya masing-masing, pantang menyerah, dan tidak hanya membesar-besarkan konflik tanpa tindakan nyata. Akhirnya, ada begitu banyak pekerjaan rumah PPGI yang harus diselesaikan, oleh karenanya mari bahu membahu membangun profesi perawat gigi Indonesia. Merdeka!!

6 thoughts on “Apakah Perawat Gigi itu Sama Dengan Perawat?: Laporan dari acara workshop keperawatan

  1. alus euy alus…….
    tapi zen kenyataan di lapangan mah beda 180 darajat euy,,saha tah ibu ketua teh, asa asa wawuh..
    ari cek akang mah rek sarua rek henteu jeung perawat teu pati ngaruh, nu pasti mah lamun perg hayang maju tong ulukutek ngurus huntu wungkul, tapi kudu memperluas cakrawala, kabisa, wawasan, lamun aya peluang mahpagawean bidan oge kudu bisa paling tdk tahu atawa ngarti lah, terus pola pikir ente, isa, jeung nu di daerah2 mah beda euy, kahareup mmah kumaha carana prg teh bisa nyalonkeun jadi walikota, gubernur etc…..

  2. Temian-temanku yang sudah jadi pejabat harus ingat ke ppgi, bantu ppgi untuk bangkit supaya maju lebih eksis lagi

  3. Punten ya, bagi prg yang ada di daerah belum atau hampir tidak ada “maNFAATNYA”.(maaaaff…man !), yang mungkin ada hanyalah acara kangen kangennan, cengeng…cengengan,,,dan ikatan emosional lain, bahwa si anu pernah anu dg sianu, dan anu anuan…hahaha…… ( buang buang waktu), kecuali hanya memelihara silaturahmi, yg lain ?, punten ini hanya unek unek orang daerah yng miskin informasi dan luput dari hiruk pikuk dan gegap gempita kegiatan PPGI. …………….DAN tentunya dg adanya aksi aksi dari agenda PPGI banyaK prg yg tergopoh gopoh utk diakui sebagai anggota, HAL ini bukan tidak mungkin akan menjadi keuntungan yg sangat mewah bagi golongan atau bahkan individu tertentu……betul ga Zael ?????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s