Perawat Gigi Indonesia, Mau Ke Mana?

Barangkali akan ada bermacam-macam interpretasi terhadap judul tulisan kali ini, yang jelas maksud awal dari  judul tersebut adalah menyajikan pertanyaan retoris, yang jawabannya tentu bisa sangat panjang dan mungkin juga dapat menimbulkan perdebatan yang seru.

Sebenarnya, latar belakang postingan kali ini adalah karena saya mendapatkan pertanyaan ini secara verbal pada rapat yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi UNPAD pada hari Jum’at 27 Februari 2009 yang baru lalu. Rapat yang secara umum membahas mengenai Grand Strategy Pelayanan Kesehatan Gigi di Indonesia ini juga membahas mengenai eksistensi perawat gigi sebagai salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pelayanan kesehatan gigi di Indonesia.

Inti pertanyaannya adalah bentuk pelayanan profesi perawat gigi Indonesia ini mengarah ke mana? apakah dental nurse, dental assistant, dental hygienist atau dental therapist?. Jawaban saya adalah, ditinjau dari kurikulum pendidikan yang diterapkan di Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Bandung, Perawat Gigi Indonesia “maunya” diarahkan untuk menjadi dental assistant, dental hygienist dan dental therapist sekaligus dalam satu tingkat satuan pendidikan yakni Diploma III Kesehatan Gigi, sedangkan dari sudut pandang organisasi profesi, perawat gigi Indonesia telah seringkali menyebut dirinya sendiri sebagai Dental Nurse.

Terlepas dari sudut pandang penamaan profesi yang seringkali dimaknai terlalu superfisial, sebenarnya ada hal yang lebih fundamental yang semestinya dapat menjawab pertanyaan mengenai arah langkah perawat gigi Indonesia ini. Sebagaimana sejatinya sebuah profesi yang idealnya dilandasi oleh batang tubuh keilmuan (body of knowledge) yang khusus, maka arah langkah pelayanan profesi perawat gigi Indonesia juga semestinya berdasarkan Body of Knowledge khusus yang dikembangkan dalam pendidikan perawat gigi, dan kemudian dijadikan landasan pengembangan pelayanan profesi perawat gigi di tingkat operasional (institusi pelayanan kesehatan gigi dan mulut).

Pertanyaan selanjutnya yang mungkin timbul adalah, apakah perawat gigi Indonesia sudah mempunyai body of knowledge yang recognized dan spesifik ? Sebagai praktisi pendidikan perawat gigi, saya bisa menjawab dengan yakin : BELUM. Kenapa?.. Karena saya sendiri tidak dapat mengemukakan satu buktipun bahwa perawat gigi Indonesia telah dan sedang dididik menggunakan suatu landasan keilmuan khusus yang hanya dimiliki oleh Perawat Gigi.

Selama ini, faktanya perawat gigi Indonesia dididik dan dilatih menggunakan landasan ilmu kedokteran gigi ( Dentistry), dan racikan struktur program yang merupakan gabungan ilmu-ilmu lain seperti Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (Nursing). Perawat gigi Indonesia belum dibesarkan dalam pendidikan dengan kurikulum yang berbasis ilmu khusus yang diakui sebagai Ilmu Keperawatan Gigi.

Selanjutnya apakah mungkin perawat gigi Indonesia mengembangkan Ilmu Keperawatan Gigi yang valid, reliable serta recognizable?. Jawaban saya adalah : Mengapa tidak? Karena secara internasional, keilmuan perawatan gigi selain Dentistry sudah lama hadir dan “eksis”. Faktanya, di dunia internasional telah lama dikenal profesi Dental Hygienist yang dalam pelayanan profesinya menggunakan basis keilmuan Dental Hygiene, atau profesi Dental Assistant yang melaksanakan tugas profesinya menggunakan keilmuan Dental Assisting.

Jadi, sesungguhnya perawat gigi Indonesia tidak usah khawatir kekurangan referensi dalam pengembangan keilmuan dan profesinya. Walaupun untuk membangun keilmuan dan profesinya itu harus memenuhi satu syarat pasti yaitu dengan cara membangun link dengan dunia internasional, jadikanlah perawat gigi Indonesia ini sebagai bagian dari masyarakat kesehatan (keperawatan gigi) Internasional. Adopsi lah ilmu Dental Hygiene dan Dental Assiting ini dalam sebuah konsep yang dikembangkan menjadi konsep keilmuan Keperawatan Gigi Indonesia.

Kesimpulannya, untuk menjawab pertanyaan kemanakah arah langkah perawat gigi Indonesia, jawabannya adalah : Tergantung dari kemauan organisasi profesi dan institusi pendidikan perawat gigi sendiri. Maukah kedua organisasi ini bekerja bersama untuk menentukan arah keperawatan gigi selanjutnya?.. Bersediakah kedua organisasi ini bekerja sama dalam menentukan basis keilmuan perawat gigi yang pada gilirannya digunakan sebagai basis bentuk pelayanan perawat gigi di lapangan, dan secara operasional, ilmu keperawatan gigi ini merupakan landasan utuh dari pembentukan kompetensi perawat gigi Indonesia. wallahu a’lam bish-shawab

40 thoughts on “Perawat Gigi Indonesia, Mau Ke Mana?

  1. tq for zaeni…..yoooo……….kita bangun profesi perawat gigi biar lebih eksis…..dan betul…….kita musti dapatkan body of knowledge…tapi bagaimana ya.caranya………

  2. ah…kang susah PPGI Jabar mah..selama jika masih “keukeuh” dengan status quonya ga bakalan bisa maju tuh…punten baiknya anggota di daerah tuh di rangkul dengan sepenuh hati bukan hanya perawat gigi di Bandung aja..so…saran saya contohlah PPNI yang tidak hanya ber”markas” di institusi Pendidikan tetapi juga bermarkas sampai ke tingkat pelayanan dasar….Nuhun…

    1. hallo kang Yudi, punten kalau kang Yudi aktif di DPC PPGI mana? kalaulah kang Yudi ikut aktif barangkali akan sedikit banyak mengetahui bagaimana upaya pengurus DPD PPGI Jabar untuk merangkul para perawat gigi di daerah, dan akan tahu juga bagaimana sulitnya mendorong partisipasi aktif mereka, dan asal akang tahu aja, kami para pengurus DPD PPGI yang berasal dari institusi pendidikan telah lama sekali ingin menyerahkan tampuk kepengurusan ke para anggota di daerah, hasilnya setiap MUSDA lagi-lagi yang terpilih dari perawat gigi yang bekerja di institusi pendidikan, kalaulah kita tidak punya sedikit idealisme dan kecintaan terhadap profesi, barangkali kami telah lama menyerah.

  3. Hyy . . . . .
    Saya sari,mahasiswi poltekkes depkes poNtianak

    AYO QITA TINGKATKAN KESEJAHTERAAN PERAWAT GIGI . . . .
    Semoga dental nurse lebih eksis . . . Lagi . .

  4. yap…sip bgt pk!!kmi mahsiswa s1 kep.gi sdg mncoba2 bkin askep kep.gigi ternyt susah..,pdoman kmi dr askep perwat umum..krn harapn kmi profesi kt pnya body of knowledge sndri, tanggapannya dunk pk…trimks

    1. Hallo Sandye…Asuhan Keperawatan Gigi semestinya disusun oleh Organisasi Profesi berdasarkan kajian mendalam plus masukan dari user dan stakeholders lainnya, harus ada prosedur yang sistematis yang ditempuh, dimulai dari riset, kemudian pembuatan model, ujicoba, kemudian diseminasi hasil uji coba kemudian disahkan oleh organisasi profesi dan kemudian diajukan ke pihak berwenang untuk diakui sebagai bagian dari body of knowledge perawat gigi…penyusunan framework asuhan keperawatan gigi tersebut tidak bisa dibuat parsial, tidak bisa dibuat oleh indivisu atau sekelompok orang, yang paling bertanggung jawab terhadap isu ini adalah organisasi profesi. Perkara substansi dari model asuhan tersebut, banyak referensi yang bisa kita gunakan, hanya saja tentu riset awal mutlak dilakukan untuk menjajaki feasibilitas, validitas serta reliabilitas model tersebut. Semoga menjadi jawaban memuaskan, Terima kasih

  5. sebenarnya yang terpenting atas eksistensi perawat gigi itu adalah perawat gigi itu sendiri, bukan yang lainnya …..

  6. body of knowledge yang seperti apa yg hrs kita usung pk..??apakah keperwatn gigi perlu menyusun asuhan keperawatan gigi sendiri…spt kep. umum, lalu knp slama ini profesi perwt gigi tdk menysun askep gigi yg bisa sbg acuan u/ mengisi body of knowledge kep. gigi…

    1. @ tiwi : body knowledge yang khusus disusun untuk keperawatan gigi, kalau di dunia internasional, body of knowledge untuk para dental professional selain perawat gigi adalah : Dental Hygiene, kita juga bisa adopsi ilmu tersebut untuk diterapkan di Indonesia

  7. Assallammuallaikum pak zaeni, menurut sy DPP PPGI perlu segera bertindak, UGM kemaren ini mendirikan S1 Kep.Gigi dan udah tutup serta yg baru dibuka adalah S1 Kep.Gigi Dental Hygiene khusus terima tamatan SMA. Permasalahannya apakah bodi of knowledge-nya udah diterima semua pihak? Bukannya kita tdk mengenal perawat gigi dental hygiene? Kecuali pendidikan dental hygiene sbg pendidikan spesialisasinya perawat gigi, mau dibawa kemana profesi kita ini? Kapan PPGI bisa mengambil tindakan nyata, atau hanya diam karena teman kita udah dididik jadi sarjana keperawatan gigi yg gak jelas arahnya? Menurut sy, kalau keadaan ini dibiarkan, bukan tidak mungkin 10 tahun lagi kita tdk mengenal lagi perawat gigi yg mandiri karena kita dikuasai, dibina, dilahirkan, dan dibesarkan oleh orang yg bukan perawat gigi

  8. ASs…
    Saya mahasiswa JKG Poltekkes Pontianak, sebenarnya apa yang membuat Profesi Perawat Gigi Indonesia kurang mendapat perhatian khusus?? saya rasa PPGI sudah bekerja maksimal, apakah mungkin lembaga pendidikannya yang salah…? apakah karena yang mencetak Perawat Gigi Indonesia adalah Dokter Gigi yang banyak menjadi Dosen & Ketua jurusannya. yang lebih gawat lagi Dokter Gigi dicetak dari DIKNAS!!! kemudian mengambil peran penting dalam institusi DEPKES yang Isinya Perawat Gigi…
    Indonesia Memang Aneh ya mas. Hehehe

  9. assalamu’alaikum……..
    salam kenal..saya lulusan kesehatan gigi poltekkes depkes surabaya 2008.
    betul…betul…betul… selama ini perawat gigi selalu dpandang sebelah mata… pdhl kami punya kompetensi yang sudah diakui oleh undang-undang RI… tp knp msh sprti ini?
    Trus bknkan perawat gigi beda dengan Teknikker Gigi??????????
    tapi knp klo ada CPNS teknikker gigi bisa melamar sebagai perawat gigi?
    mohon penjelasannya… terimakasih..
    wasalamu’alaikum…

    1. Hallo reny
      Persepsi bahwa perawat gigi dipandang sebelah mata boleh jadi diakibatkan dari cara pandang atau pola pikir negatif yang terlalu dilebih-lebihkan.
      Betul bahwa masih banyak persoalan dalam profesi perawat gigi, seperti bahwa perawat gigi belum punya body of knowledge yang utuh, betul bahwa penyerapan tenaga kerja lulusan sekolah / perguruan tinggi perawat gigi masih belum optimal, betul bahwa regulasi tentang praktek pelayanan keperawatan gigi belum sepenuhnya seperti yang diharapkan oleh para perawat gigi sendiri.
      Tetapi, berpikirlah dari sudut pandang yang positif. Saya kira tidak ada satu pihak-pun yang memandang rendah perawat gigi, tidak ada bukti bahwa perawat gigi telah didiskriminasi secara nyata. Pemerintah (Depkes) dalam hal ini sudah banyak memberikan perhatian, perawat gigi sudah punya standar profesi (sebagai salah satu bukti).
      Akan halnya masih banyak persoalan, jangan hanya menyalahkan orang lain, tapi perawat gigi sendiri harus selalu introspeksi dan senantiasa memperbaiki diri.
      Persoalan tekniker gigi menjadi perawat gigi saya kira harus dilihat kasusnya dengan cermat, dan saya tidak punya cukup bukti untuk menanggapi hal itu di sini.
      Semoga cukup memberikan jawaban ya reny
      Wassalam

      1. Assalamu’alaikum
        Pak saya mahasiswa baru poltekkes sby, saya ambil D3 Keperawatan gigi. Saya mau bertanya, nanti kalau saya sudah lulus dan saya ingin tranfer ke D4/S1 dimana? Karena saya baca UGM teryata sudah tutup. Terimakasih

  10. Salam kenal, saya dokter gigi tinggal di yogyakarta.
    saya setuju dengan tulisan anda di atas, masalahnya kebijakan fungsi perawat gigi di indonesia lebih ke dental assistant dan ditambah sedikit kompetensi promotif dan preventif. padahal banyak kompetensi lain di luar ilmu kedokteran gigi (yang menghasilkan dokter gigi) yang bisa diterapkan ke mahasiswa perawat gigi yang nantinya tetap bisa mendukung tugas dokter gigi tanpa ada overlap kewenangan tindakan medis, salam

    1. makasih dokter dimas atas commentnya… untuk penjelasannya mungkin dokter gigi dimas harus membuka SK Menkes No 378 tahun 2007 tentang standar profesi perawat gigi, standar tersebut akan lebih menjelaskan banyak tentang posisi perawat gigi Indonesia

      Salam

      Zaeni

  11. yup, sudah saya baca, ada 12 kompetensi utama yang seharusnya dikuasai perawat gigi namun sayang pada kenyataannya banyak yang “dikebiri”, mungkin blog anda ini bisa menjadi semacam cambuk bagi rekan2 perawat gigi bahwa mereka mampu berkiprah lebih dari apa yang terlihat saat ini…

    salam…

  12. nah untuk kedepannya…perawat2 gigi ini mau dibawa kemana ya??lapangan kerja kalau di puskesmas / rumah sakit itu apa sudah banyak dibutuhkan??
    apakah nantinya bisa praktek mandiri juga?
    saya mahasiswa perawat gigi S1 di ugm..

    1. sdr panji coba tanyakan pertanyaan anda kepada pengelola program s 1 perawat gigi ugm, mungkin mereka punya jawabannya, jangan jadikan kami di persatuan perawat gigi indonesia yang hanya memikirkan ini

  13. apakah PPGI ke depannya bersedia apabila S1 Ilmu Keperawatan Gigi bergabung dengan PPGI? karena yang kami tahu organisasi profesi perawat gigi di Indonesia hanya PPGI.

  14. Maaf,,karena saya bertanya orang yang setidaknya sudah banyak pengalaman di bidang ini.kalaupun anda tidak berkenan menjawabnya saya pun tidak apa2.
    Tapi apakah dengan adanya jenjang s1 keperawatan gigi itu bukankah menjadi sebuah kemajuan di dalam bidang ini??
    Tolong juga untuk PPGI area jogjakarta untuk membuka diri dengan adanya jenjang S1 di UGM. Jadi kita bisa membangun masa depan prodi ini kedepannya untuk lebih baik lagi.
    Terimakasih.

    1. Sdr. Panji, yang seharusnya membuka diri itu adalah pengelola program S 1 Keperawatan Gigi UGM, karena kami dari DPP PPGI pada waktu MUNAS PPGI di Bali sudah bertanya, mengenai kompetensi, penyerapan dan lain sebagainya, tetapi tidak ada tanggapan yang jelas dan seolah-olah S 1 UGM bisa berjalan sendiri tanpa organisasi profesi. Tidak pernah ada komunikasi formal antara S 1 Keperawatan Gigi UGM dengan PPGI, baik pusat maupun DPD DI Yogyakarta. Persoalan kompetensi lulusan, penyerapan dan lapangan pekerjaan lulusannya juga kami tidak pernah diajak komunikasi, jadi kalau ada pertanyaan apakah bisa bergabung di PPGI, bagaimana penyerapan dan sebagainya, ya silakan ditanya ke pengelola program S! keperawatan UGM, mungkin beliau-beliau tahu jawabannya. mudah-mudahan sdr. Panji memahami jawaban ini.

  15. tapi apakah dari anda atau setidaknya perwakilan PPGI yogyakarta tidak ada inisiatif untuk mengajak kita lulusan S1 untuk bergabung dengan organisasi profesi ini??
    ya mungkin saya memang tidak tahu apa2,tapi kalau dari jawaban bapak kelihatannya bapak seolah membiarkan kami..sedangkan Anda yang telah lama berkecimpung dalam dunia keperawatan gigi.

    Kalau masalah pengelola progam ini di UGM dengan PPGI saya mungkin tidak tahu masalah itu karena mungkin pada saat itu saya belum lulus SMA.
    tapi apakah kami salah untuk bertanya dan ikut bergabung dalam organisasi profesi ini?
    karena tidak akan bisa sesuatu itu akan berjalan lancar kalau satu sama lain mementingkan ideologi masing2 dan tidak ada yang mau mengalah.

    sekali lagi terimakasih telah menanggapi komen saya ini.

    1. Sdr panji, kami di PPGI (pusat maupun DPD DI Yogyakarta) berorganisasi berdasarkan AD/ART yang disepakati pada Musyawarah Nasional, ada ketentuan keanggotaan, mekanismenya bukan dengan ajak mengajak secara informal, seseorang yang ingin jadi anggota PPGI haruslah mendaftarkan diri dan terbukti memenuhi persyaratan yang ditentukan. Jadi bila anda ingin menjadi anggota PPGI haruslah memenuhi ketentuan yang digariskan organisasi.saran saya, kalau di S1 kep. Gigi ada organisasi mahasiswanya, coba kirim surat dan mengajukan diri untuk bertemu dan berdialog dengan PPGI baik daerah maupun pusat.

  16. Ya…, sy setuju bhw untuk memulai membuat body of knowledge hrs berasal dr organisasi profesi itu sendiri. Dlm undang2, perawat gigi diakui sbg tenaga profesional, tetapi suatu profesi dikatakan profesional apabila profesi tsb, memiliki etika, keterampilan, ilmu. Kenyataannya, seorang perawat gigi, meski sekolah tinggi dia hanya akan berkecimpung dalam sisi “terapan”,stop sampai disitu. Lain halnya dg profesi drg, yg bisa memunculkan spesialisasinya,shg dpt melakukan tugas mandiri. Hal ini karena kita memang masih mengadopsi ilmu dentistry. Msh banyak rekan2 saya diluar sana yg tidak tahu apa dan bagaimana prg sebenarnya, serta ada di posisi mana prg sebenarnya?. Karena saat ini terutama bagi rekan2 yang sudah bekerja mungkin merasakan benturannya di lapangan dengan profesi lain, meski kita bekerja dalam koridor kompetensi prg. Sebagai langkah awal, membuat link dg dunia internasional adalah good answer. Yuk ah hand in hand doing something utk profesi kita

  17. artikel yang bagus sekaligus merasa miris sebetulnya. Saya merasakan sekali pak sebagai mahasiswa kepgi terkadang seperti putus asa dengan tidak adanya body of knowledge ini. Bahkan untuk tetap statis di ranah profesi ini rasanya tidak sanggup. Bagaimana meningkatkan semangat keprofesian ini ya pak ?

  18. lalu siapa yg sehrusnya berwenang dalam membuat body of knowledge itu sendiri? alangkah baiknya jika body of knowledge segera dibuat demi kelancaran pembelajaran perawat gigi dan mereka bisa bernaafas lega. dan mohon maaf kepada para dokter gigi, kalian tdk perlu waswas terhadap keberadaan perawat gigi karena rejeki mah udah ditangan Allah. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s