Basic Package of Oral Care

Baru-baru ini penulis men-download sebuah monograph yang diterbitkan oleh the WHO Collaborating Centre for Oral Health Care Planning and Future Scenarios College of Dental Science University of Nijmegen, The Netherlands, berikut disajikan rangkumannya :

A. Latar Belakang

Perawatan dan pengobatan gigi dan mulut masih dianggap sebagai layanan sekunder/tertier yang mahal di berbagai negara, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan di tengah-tengah masyarakat yang kurang beruntung. Sementara itu masalah tingginya angka kesakitan gigi dan mulut masih merupakan beban kesehatan masyarakat yang dapat menurunkan kualitas kehidupan masyarakat serta menjadi faktor risiko masalah-masalah kesehatan yang lebih kompleks.

Basic Package of Oral Care / BPOC (Paket Dasar Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut) merupakan sebuah konsep program yang dihasilkan setelah melalui proses penggabungan konsep-konsep dan pendekatan-pendekatan yang telah lama dikembangkan pada dekade terakhir ini. Landasan dasar dari BPOC ini adalah efektifitas program kesehatan gigi dan mulut yang acceptable (gampang diperoleh), feasible (layak diselenggarakan) dan affordable (murah) yang terutama ditujukan bagi kelompok masyarakat yang kurang beruntung.

Sebagai landasan filosofis dari BPOC ini adalah filosofi Primary Health Care (PHC) yang menegaskan pelayanan pencegahan penyakit yang murah, berkesinambungan dan dilaksanakan berdasarkan kebutuhan sebenarnya dari masyarakat sasaran pelaksanaan program.

Global Direction on Oral Health Care

According to the WHO Global Oral Health Programme (ORH) published on official WHO website , the main emphasis of oral health care development has been focused on oral health promotion and oral disease prevention. Furthermore, the WHO has set up a global strategy for prevention and control of these diseases, endorsed in 2000 by the Fifty-third World Health Assembly (resolution WHA 53.17).

Perawat Gigi Indonesia, Mau Ke Mana?

Barangkali akan ada bermacam-macam interpretasi terhadap judul tulisan kali ini, yang jelas maksud awal dari judul tersebut adalah menyajikan pertanyaan retoris, yang jawabannya tentu bisa sangat panjang dan mungkin juga dapat menimbulkan perdebatan yang seru.

Sebenarnya, latar belakang postingan kali ini adalah karena saya mendapatkan pertanyaan ini secara verbal pada rapat yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi UNPAD pada hari Jum’at 27 Februari 2009 yang baru lalu. Rapat yang secara umum membahas mengenai Grand Strategy Pelayanan Kesehatan Gigi di Indonesia ini juga membahas mengenai eksistensi perawat gigi sebagai salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pelayanan kesehatan gigi di Indonesia.